Tuesday, April 26, 2011
Statistically Correct? pt. 5
For all of your well wishes (you know who you are), only the sincerest gratitude from the bottom of my heart.
On with the breakdown.
00.00% called directly to my mobile (yes, nobody! Voice is dead!)
02.12% sent text messages (correct, text messaging is also fast becoming obsolete)
00.19% sent instant messages (anyone remember BUZZ!!!, anyone?)
03.85% posted in mailing lists, while 00.00% sent personal e-mails (the Death of Mailing Lists?)
34.87% left messages or posted on Facebook Wall
00.77% are at work already
41.62% sent real-time messages with BlackBerry Messenger (we have a winner here! Sorry, Zuckerberg)
16.57% mentioned @aryaaa or sent Direct Message on Twitter
Wednesday, December 23, 2009
Statistically Correct? pt. 4
For all of your well wishes (you know who you are), only the sincerest gratitude from the bottom of my heart.
On with the breakdown.
00.24% called directly to my mobile (the death of voice communications?)
05.69% sent text messages
01.18% sent instant messages
13.27% posted in mailing lists, while 00.00% sent personal e-mails
51.18% left messages/testimonials in Facebook (with 00.00% in friendster)
01.18% are at work already
20.38% sent real-time messages with BlackBerry Messenger
Concluded with a surprise from this last one below.
06.87% mentioned @aryaaa or sent Direct Message on Twitter
.
Tuesday, December 23, 2008
Statistically Correct? pt. 3
Now that the date had (again) safely passed me by, herewith some random statistic I managed to compile for no particular reason but to exhibit the shift in social behavior of human beings in relation to technology.
For all of your well wishes (you know who you are), only the sincerest gratitude from the bottom of my heart. Me heart you all.
On with the breakdown.
03.26% called directly to my mobile
14.24% sent text messages
03.56% sent instant messages
09.79% posted in mailing lists, while 00.89% sent personal e-mails
55.49% left messages/testimonials in Facebook (with another 00.89% in friendster)
05.64% are at work already
Concluded with quite a surprise from this last one below.
06.23% sent real-time messages with BlackBerry Messenger
Friday, December 19, 2008
Statistically Correct? pt. 2
In light of 2006’s, in which I deliberately skipped 2007’s, below is the final breakdown of the annual well-wishes prior to this year’s edition. Note that the numbers from 2006 had been corrected.
2007
10.12% called directly to my mobile (yes, fixed land lines are officially dead)
55.95% sent text messages
01.79% sent instant messages
04.76% posted in mailing lists
16.67% left messages/testimonials in social networking sites (15.48% on Facebook, goodbye friendster)
10.71% are at work already
2006
11.89% called directly to my mobile (the death of fixed land lines?)
58.04% sent text messages
05.59% sent instant messages
09.79% posted in mailing lists
07.69% left messages/testimonials in social networking sites
06.99% are at work already
Tuesday, June 19, 2007
Future Audience
Monday, April 30, 2007
Nothing But Net
Now am feeling old.
Thursday, March 8, 2007
Random Pattern
Anyhow, someone pointed out this pattern in the randomness of local incidents so far this year. Something about the numbers. Eerie, huh.
01.01 AdamAir disappearance into thin air.
02.02 Jakarta’s worst flood ever recorded.
02.22 Levina ferry burned at sea.
03.03 Nusa Tenggara Timur’s landslide.
07.03.07 Garuda’s Boeing 737 crashed and burned.
Any idea what’s in store for April 4th?
Monday, February 26, 2007
Retirement Plan
Most crossed to the client-side (especially the account types), lured by the glitter of huge take-home-pay packages and annual bonuses.
Few graduated to become Writers (of script or book) and Film Directors, like Yasmin Ahmad.
But only one became Manchester United’s Group Commercial Director. Now that's divine intervention.
For me, I see porn on my horizon (unfortunately, Playboy Indonesia beat me to that). Vivid Indonesia, anyone?
UPDATE:
A good agency friend of mine has this theory once, that if the Cannes International Film Festival is the "granddaddy of all film festivals" while we're still daydreaming about Lion statues, then a career shift to porn (an actual full-length film industry, not just bloated 30-seconders) would actually mean that we're moving up the food chain!
Friday, February 23, 2007
How to Make 50 Grand* in Five Easy Steps
Step 1: Identify two of the oldest planes (or the ones with the highest risk factor) still in service from this list (except PK-KKW 737-4Q8 (retired/still missing) and PK-KKV 737-300 (awaiting repair/retired), and verify their respective flight numbers (IATA Code: KI) accordingly.
Step 2: Recruit a hobo which resembles your physical characteristics down to the details.
Step 3: Book a seat under your name on either plane’s each and every flight thru their site, and pay the airfares accordingly. (For an easy 50 grand, of course this will still cost you.)
Step 4: Ensure that your recruited hobo will board each and every flight you’ve booked and paid for, obviously he/she must always fly and be registered under your name in every Flight Manifest. (Last time I checked, once completing the Check In procedure on domestic flights, any passenger holding a valid Boarding Pass can board the plane without a proper ID verification.)
Step 5: Patiently anticipate the tragic breaking news (so far in 2007, the rate is one incident per month), and instruct your family/next of kin to follow the claim procedure accordingly thereafter. Pray for the unfortunate victims, and pray hard for no DNA testing.
Disclaimer: The author accepts NO responsibility for any action resulting from this post, the author does NOT expect people to actually follow these steps, nor there is any guarantee that these steps will work at all. This post is only intended as a reminder that: us Indonesians might just be loony enough to try this (actually, this post does serve to pre-empt those lunatics); and NO ONE should be allowed to board Indonesian domestic flights by showing another person’s valid Boarding Pass. Lastly, AdamAir please get your act straight!
Wednesday, February 7, 2007
Thursday, January 18, 2007
Speaking of Laziness
But should you not be pleased by such huge amount of non-productivity officially sanctioned by the government, here is an ugly attempt to waste some more of your productive hours, since we have been working too hard days in days out. As if!
To think that an advertiser as big as Toyota actually endorses this act of sloth. Weird strategy.
Or probably all of us would rather think "why bother", because the armageddon is going to be inevitable anyway.
from Bisnis Indonesia
1/3 TAHUN LIBUR!
Oleh: Christovita Wiloto, Managing Partner Wiloto Corp Asia Pacific
powerpr@wiloto.com www.wiloto.com
Terlalu banyak hari libur pada 2006 ini. Dalam satu tahun penuh total hari libur sabtu, minggu serta hari besar keagamaan dan nasional mencapai 119 hari. Sementara total hari kerja hanya 246 hari saja, itupun hanya sekitar 8 jam sehari kita produktif bekerja, belum lagi ditambah berbagai kemacetan lalu lintas yang sangat menyita waktu produktif kita.
Total 119 hari libur ini sama dengan 33% dari total waktu yang ada dalam setahun, dan 48% atau hampir setengah dari total hari kerja dalam setahun. Luar biasa! Artinya, selama kita dibius, bahkan hampir dibunuh, dengan libur yang terlalu melimpah.
Angka itu membengkak lagi jika dimasukkan 'hari kejepit' yang juga kerap kita klaim sepihak untuk tidak bekerja. Tahun 2006 sedikitnya ada sekitar enam hari kerja yang berkategori 'hari kejepit' tadi. Sehingga total, pada tahun 2006 lalu, kita bisa menfaatkan 126-an hari untuk liburan.
Tidak akan berbeda di tahun depan, 2007. Pemerintah kembali memberlakukan hari libur nasional dan cuti bersama tahun 2007. Berdasarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Agama, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi dan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara No 481 Tahun 2006, ditetapkan 13 hari libur nasional dan 6 hari libur sebagai cuti bersama selama tahun 2007.
Konsep cuti bersama pada dasarnya diambil dari hari yang terjepit antara hari libur nasional dengan libur akhir pekan, yang jatuh pada hari Jumat, menjelang atau setelah hari libur nasional.
Yang menarik, adalah kebiasaan unik kita yang selalu berpanjang-panjang ria dengan liburan yang melimpah tadi. Artinya, meski seharusnya sudah berstatus masuk kerja, tapi kita tetap belum benar-benar siap untuk kembali bekerja secara produktif.
Secara fisik memang kita sudah berada di kantor, tapi otak dan hati kita masih libur. Celakanya, untuk mengaktifkan kembali otak dan hati itulah yang biasanya jauh lebih sulit.
Sekadar perbandingan, di Jepang hanya ada 15 hari libur nasional. Walau itu belum termasuk libur khusus yang berhubungan dengan musim. Ini lantaran masyarakat Jepang banyak memasukkan agama dan kepercayaan yang diyakininya dalam aktivitas sehari-hari. Namun secara total jumlahnya tak sampai 100-an seperti di Indonesia.
Sementara para pekerja di Cina, hanya bisa menikmati libur panjang pada Labour Day. Itu pun rata-rata paling lama hanya sekitar 8-10 hari. Namun, secara umum warga Cina juga punya masa libur panjang selama 15 hari yang merupakan hari libur paling penting pada awal tahun anjing.
Di Korea Selatan juga tak terlu banyak hari libur. Meski ada hari-hari khusus yang ditetapkan sebagai hari libur nasional. Misalnya, Tahun Baru Imlek dan Hari Bulan Purnama. Saat itu masyarakat Korea bisa menikmati liburan, masing-masing, selama tiga hari berturut-turut.
Khusus libur akhir tahun dan lebaran di Indonesia, sering kali bisa lebih lama dari jumlah libur resmi. Apalagi kalau waktunya mepet ke akhir pekan. Kitapun kerap memanfaatkannya untuk cuti besar. Sehingga kita bisa tenang berkunjung ke sanak saudara yang ada di kampung.
Uniknya, liburan yang lebih panjang lagi bisa dinikmati oleh wakil-wakil rakyat kita yang ada di Senayan dan bergaji luar biasa besar. Selain libur resmi nasional mereka juga leluasa menikmati masa reses pada setiap akhir masa persidangan, yang masing-masing selama dua pekan.
Kalau setahun ada empat kali masa persidangan, berarti anggota DPR kita juga akan mendapat empat kali liburan masa reses. Lamanya, empat kali dua pekan atau 48 hari. Biasanya mereka memanfaatkan waktu untuk melancong atau studi banding luar negeri.
Lucunya, pernah anggota DPR kita studi banding ke parlemen Belanda. Sayang saat itu parlemen Belanda malah sedang libur. Jadinya, rombongan wakil rakyat kita 'terpaksa' hanya ikut liburan sambil berbelanja.
Introspeksi
Memasuki tahun 2007. Di awal tahun ini, biasanya merupakan saat yang tepat untuk melakukan introspeksi. Mengevaluasi kesalahan apa saja yang kita lakukan tahun lalu, serta mencari solusi tepat untuk memperbaikinya tahun depan.
Atau, kita perlu mempertanyakan kepada diri sendiri, kenapa kita tak bisa memanfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk keluarga kita. Atau kenapa kita tak mampu mengoptimalkan waktu untuk meraih sukses sebesar-besarnya. Padahal, sepanjang tahun kita punya berlimpah waktu untuk melakukan semua itu.
Nah, menyimak fenomena seperti itu, rasanya kita memang perlu introspeksi. Kapan bangsa kita ini bisa menjadi bangsa yang besar, jika dibandingkan dengan bangsa-bangsa lainnya di dunia ini? Kalau kita selalu lebih mementingkan liburan dari pada bekerja keras?
Bangsa-bangsa lain telah bangun dan bekerja keras, ketika kita masih tertidur dan berlibur. Dan bangsa-bangsa lain masih bangun dan bekerja keras, ketika kita sudah tertidur dan berlibur.
Selamat tahun baru 2007. Semoga di tahun 2007 kita dan bangsa kita menjadi lebih bijaksana.
Wednesday, January 3, 2007
Somewhere, Someone is Screaming "I TOLD YOU SO!"
One gentleman sort of predicted this accident way back in May, or even before that. I only got the forwarded message, mind you. He only made the gloomy prediction after analyzing data on each aircraft's age, which had yielded an alarming outcome. And you know what, this guy is an expatriate, because none of us Indonesians could care less.
And did the fools listen? Obviously, no. "Oh my God, they killed innocent people! You cursed bastards!"
The one still missing until this exact moment is allegedly PK-KKW (as predicted below). Non-English audience, do obtain a proper back-translation.
----- Original Message -----
Sent: Monday, May 15, 2006 8:00 PM
Subject: Fw: Informasi Penerbangan Di Indonesia
Seorang ekspatriat yang tinggal di Jakarta menulis artikel ini. FYI.
Mr. X-File.
Fear Factor : Flying in Indonesia _ D A N G E R !
Pada waktu saya kembali dari liburan di Bali, saya menggunakan Adam Air rute Denpasar – Jakarta. Saya mendengar maskapai yang relatif baru ini dari beberapa teman, yang menyebutkan bahwa maskapai ini mempunyai pesawat-pesawat yang relatif baru dan diijinkan terbang ke Singapura. Kedengarannya maskapai ini sangatlah bagus, khususnya jika menyangkut masalah tiket sekali jalan yang hanya Rp. 295.00,- yang sedikit lebih mahal dari penerbangan “metro-mini” Lion Air. Penawaran ini sangat bagus, berdasarkan pengalaman saya tinggal beberapa tahun di Indonesia. Tapi kemudian saya mulai berfikir bahwa ini terlalu bagus dan pasti ada yang salah dengan semua ini.
Bagaimanapun, saya memutuskan untuk mencoba keberuntungan saya dan terbang bersama Adam Air, yang ternyata banyak orang juga berfikir sama karena pesawatnya sudah penuh di booking? Dibandingkan dengan Garuda yang nyaris tanpa penumpang.
Waktu naik pesawat Adam Air, saya segera melihat bahwa Boeing 737-400 tersebut, engine cover-nya penuh dengan goresan (scratch), sayapnya sangat kotor dan banyak cat-nya yang cacat, pintunya juga terlihat sangat tua dan sangat jauh dari ekpektasi saya akan pesawat baru. Bagaimanapun, saya tetap memutuskan untuk menguji level keberanian saya untuk tetap terbang dan masuk ke pesawat. Sebagai catatan, saya mencatat kode registrasi pesawat PK-KKI (lihat Table Adam Air di bawah).
Sesampainya di Jakarta, saya mencari kode tersebut di database penerbangan dan “Pesawat Baru” tersebut pertama kali terbang pada 10 Desember 1988, yang artinya umurnya sudah 17 tahun, dan kalau dibandingkan dengan umur manusia, berarti usianya menjelang 50 tahun. Dalam catatannya juga disebutkan bahwa pesawat ini mempunyai jam terbang yang tinggi, dimana sebelumnya digunakan oleh Sahara India Airlines, Sierra National Airline dan Air Belgium (pemilik pertama). Sungguh merupakan catatan yang menarik untuk sebuah pesawat. Sekarang pertanyaannya adalah apakah saya yang kurang beruntung sehingga mendapatkan satu-satunya pesawat tua di Adam Air, atau apakah semua pesawatnya memang tidak sebaru seperti yang saya harapkan?
Mengikuti rasa keingintahuan saya, coba lihat Tabal Pesawat Adam Air berikut yang menyajikan informasi umur dari masing-masing pesawat.
No/Registrasi/Penerbangan Pertama/Umur
1 PK-KKF 737-200 12-02-1980 26
2 PK-KKN 737-200 21-03-1980 25
3 PK-KKQ 737-200 16-01-1981 25
4 PK-KKJ 737-200 03-02-1982 24
5 PK-KKL 737-200 12-04-1984 21
6 PK-KKE 737-300 31-08-1987 18
7 PK-KKP 737-200 31-05-1988 17
8 PK-KKH 737-400 11-07-1988 17
9 PK-KKU 737-300 04-08-1988 17
10 PK-KKI 737-400 10-12-1988 17
12 PK-KKD 737-400 22-12-1988 17
13 PK-KKR 737-300 09-01-1989 17
14 PK-KKW 737-4Q8 11-01-1989 17
15 PK-KKS 737-400 28-01-1989 17
16 PK-KKT 737-400 05-09-1989 16
17 PK-KKG 737-400 07-01-1991 15
18 PK-KKC 737-400 09-01-1992 14
19 PK-KKA 737-500 10-06-1997 08
(hanya satu pesawat yang agak aman?? Bagaimana dengan yang lain??)
Melihat tabal tersebut, saya benar-benar beruntung, dimana pesawat berumur 17 tahun yang saya tumpangi termasuk yang baru dibandingkan dengan pesawat Adam Air lain dengan kode regirtrasi PK-KKN (KKN adalah singkatan paling popular di Indonesia untuk Korupsi-Kolusi-Nepotisme), yang umurnya 25 tahun.
Dibandingkan dengan usia manusia, pesawat ini sama dengan manusia berumur hamper 80 tahun dan mungkin sudah memesan tempat di kuburan.
Berdasarkan tabel di atas, kita bisa menghitung umur rata-rata pesawat Adam Air, yaitu 18 tahun. Sebenarnya, hanya ada satu pesawat yang umurnya kurang dari 10 tahun, dan jika saya tidak salah, ini pasti pesawat yang diijinkan mendarat di Singapura.
Jelas, banyak penumpang memilih Adam Air karena berfikir tentang pesawat yang baru, padahal armada sebenarnya dipenuhi oleh pesawat polesan seperti baru (refurbished) dengan hanya satu pesawat yang relatif baru, yang digunakan tim marketing Adam Air untuk menciptakan image, atau lebih tepat khayalan, tentang terbang dengan pesawat baru. Mungkin definisi Adam Air tentang pesawat “baru” adalah definisi untuk penerbangan lokal Indonesia, dan mungkin persepsi saya lah yang salah.
Untuk memverifikasi hal tersebut, saya membandingkan umur rata-rata pesawat dari beberapa penerbangan di Indonesia, dan inilah Statistik Umur Pesawat Penumpang di Indonesia:
Garuda Indonesia Umur 10.0 tahun
Lion Air Umur 17.3 tahun
Adam Air Umur 18.1 tahun
Awair Umur 18.8 tahun
Merpati Umur 21.6 tahun
Batavia Umur 23.4 tahun
Sriwijaya Air Umur 23.5 tahun
Mandala Airlines Umur 23.9 tahun
Bouraq Indonesia Airlines Umur 25.1 tahun
Mengejutkan! Dengan armada berumur 18 tahun, Adam Air menempati urutan ketiga dari armada dengan pesawat terbaru di Indonesia. Garuda Indonesia memimpin dengan armada berumur 10 tahun.
Hal lain yang sangat mengejutkan adalah Lion Air menempati urutan kedua dengan armada sedikit lebih muda, yaitu 17 tahun?? Itu hampir setengah kali lebih tua dari armada Garuda Indonesia.
Urutan terakhir ditempati oleh Bouraq Indonesian Airlines, dengan umur pesawat 25 tahun, yang memberikan saya ide tentang Fear Factor stunt-man “Terbang bersama Bouraq” untuk trial & error penyakit ketakutan terbang (flying phobia).
Mandala Airlines menempati urutan kedua dari terakhir. Melihat hal ini, saya teringat dengan kecelakaan pesawat Mandala Boeing 737-200 pada 5 September 2005 yang menelan korban hampir 150 orang. Pada saat kejadian, pesawat PK-RIM tersebut berumur 24 tahun.
Sebagai pembanding, pesawat Lion Air McDonell-Douglas MD-82 yang mengalami kecelakaan di Airport Solo pada 30 November 2004 dan menelan korban 25 orang, berumur 20 tahun. Pada laporan terakhirnya, jam terbang pesawat tersebut 56,674 jam dan telah melakukan pendaratan 43,940 kali!
Saya pikir bukanlah suatu kebetulan kalo pesawat-pesawat yang mengalami kecelakaan berumur paling tidak 20 tahun. Sebagai pembanding, saya mengecek umur rata-rata pesawat dari maskapai-maskapai pemilik sebelumnya pesawat Adam Air PK-KKI yang saya tumpangi.
Blue Panorama Airlines Umur 11.6 tahun
Sahara India Airlines Umur 10.5 tahun
Sangat menarik ternyata, 11.6 tahun dan 10.5 tahun, yang membuktikan bahwa kedua maskapai di atas merasa bahwa pesawat tersebut terlalu tua untuk beroperasi, sementara manajemen Adam Air berpikir bahwa mengoperasikan pesawat berumur 17 tahun adalah benar-benar tidak bermasalah??? SNOBBISH ! But FOOLISH ? (Congkak! Tapi Tolol?)
Mencari di beberapa Koran, saya menemukan beberapa artikel yang bisa menjadi kesimpulan dari tulisan ini.
Yang pertama datang dari The Jakarta Post (11 Februari 2006): Sebuah pesawat Adam Air Boeing 737-300 yang melayani rute Jakarta-Makasar, terpaksa mendarat secara darurat pada hari Sabtu, di bandara kecil Tambolaka, Sumba-NTT; disampaikan oleh juru bicara Adam Air.
Pesawat tersebut berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta Jakarta pada jam 6:20 a.m. dengan 145 penumpang. Pesawat dijadwalkan mendarat di Bandara Hasanuddin Makassar pada jam 9:25 a.m. waktu setempat. Begitu menurut Suwandi, Supervisor Adam Air di Makassar.
“Tapi, masalah navigasi membuat pilot Tri Tuniogo kehilangan kontak dengan bandara tujuan”, ucap Suwandi. Pesawat kemudian ditemukan telah mendarat di Tambolaka pada jam 9:45 a.m. waktu setempat.
“Tidak ada yang terluka dalam insiden ini”, ucap Didik, public relation Adam Air Jakarta, yang menambahkan juga bahwa pendaratan darurat dilakukan karena kondisi cuaca yang buruk. “Berdasarkan kondisi cuaca, terjadi badai atau hujan lebat yang memaksa pilot untuk mendarat – kami belum mendapat informasi lebih lanjut,” ucap Didik. Jadi, ini masalah cuaca buruk dan pesawat harus mendarat. Tidak ada yang aneh kan? Sampai Anda baca terbitan selanjutnya pada hari Valentine.
Kementrian Perhubungan mengangap Adam Air telah melakukan pelanggaran serius dalam pengoprasian pesawat, tapi masih memerlukan bukti mengenai insiden serius pada sistem navigasi pesawat. “Ini adalah pelanggaran serius dan yang pertama kali terjadi pada penerbangan di Indonesia,” ucap Dirjen Perhubungan Udara, Iksan Tatang, menjawab pertanyaan wartawan pada hari Senin.
Pesawat Adam Air Boeing 737-300 dengan nomer penerbangan DHI728, melakukan pendaratan darurat di Tambolaka, Sumba Barat-NTT, setelah berputar-putar selama 3 jam karena kegagalan navigasi dalam perjalanannya dari Jakarta melewati NTT, dimana dirjen mengatakan bahwa pesawat tersebut seharusnya tidak boleh terbang karena masih ada pemeriksaan yang tertunda oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) dan Direktorat Sertifikasi Kelayakan Terbang.
Itu sangat menarik! Awalnya insiden ini terjadi karena cuaca buruk, dan sekarang karena kegagalan sistem navigasi. Huh?
Saya pikir cerita sebenarnya adalah pelanggaran serius yang dilakukan oleh Adam Air. Untuk Anda ketahui, dua orang teman saya terbang dari Manado dengan Lion Air dan pesawatnya mengalami permasalahan serius sampai-sampai pramugari memerintahkan semua penumpang memakai jaket penyelamat. Untungnya penerbangan berakhir tanpa insiden, dan tidak ada satu pun Koran yang menulis berita tentang kejadian ini. Mungkin karena KKN yang saya sebutkan sebelumnya.
Mungkin Anda bertanya-tanya seberapa tua Boeng 737-300 yang mengalami kegagalan sistem navigasi tersebut. Melihat umur armada Boeng 737-300 Adam Air, pesawat tersebut pastilah berumur paling tidak 17 tahun. Mungkin pesawat terlalu muda 3 tahun untuk masuk dalam daftar kecelakaan pesawat di Indonesia.
Lihat gambaran keseluruhannya, saya memprediksi akan ada paling tidak satu kecelakaan pesawat lagi di Indonesia sebelum tahun 2006 berakhir.
Have a nice flight everyone !
Terjemahan bebas menurut dokumen aslinya, oleh: MarCom
Silahkan memverifikasi kebenarannya.
Thursday, December 28, 2006
Yet Another Proof of How Freakin Lazy We Indonesians Are

- 10:00 People actually start working or just arrive at work
- 10:30 Leave for lunch, in Bandung
- 12:00 Lunch in Bandung
- 13:00 Return to Jakarta
- 14:30 Back to work
Wednesday, December 20, 2006
Statistically Correct?

